MetropolisOpiniRagam

Jangan Langgar Sumpah Yang Diikrarkan 94 Tahun lalu

Oleh : Rahmat Dermawan, Sos.MM  (Tenaga Ahli Pimpinan DPRD Kaltim, Koordinator Semut Merah)

Garda.co.id Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KjB), gedung Oost – Java Bioscoop, dan gedung Indonesische Clubhuis Kramat, 28 Oktober 94 tahun lalu menjadi saksi sejarah.

Lagu berjudul Indonesia karya Wage Rudolf Supratman berkumandang saat itu, riuh gempita, sorak sorai pemuda peserta kongres karena telah lahir ikrar sakral   bernama Sumpah Pemuda.

Bukan sekedar kumpul bersenang-senang, apalagi seremoni penuh gelak tawa, semua pemuda yang hadir serius berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Semangat gotong royong, cinta tanah air, persatuan, musyawarah, cinta damai dan tanggung jawab menjadi manifestasi penerapan nilai-nilai yang ada di Sumpah Pemuda.

Saya setuju dengan konteks sumpah sebagai ikrar yang sakral bagi perjuangan kemerdekaan seperti para pendahulu kita lakukan, ini semangat yang harus dicontoh, memiliki prinsip sebagai pemuda yang menjadi tonggak kemajuan dan kemerdekaan bangsa.

Namun, sumpah dalam konteks janji jaman sekarang banyak yang hanya terucap, jauh dari aksi nyata, ini memprihatinkan, karena pemuda sejatinya bergerak, dari satu titik ke titik lain yang lebih baik, bukankah esensi pembangunan itu seperti itu?!

Ide melahirkan aksi, aksi melahirkan karya, karya mewujudkan kebermanfaatan yang berdampak, dulu pemuda menggebu memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, estafet itu kita sambut dengan mempertahankan dan membesarkan negara ini.

Jangan langgar sumpahmu, jangan hanya terucap, jangan hanya menjadi angan.

Prokrastinasi, satu istilah yang meresahkan saya, mungkin juga anda, istilah yang asing di telinga kita ini bermakna menunda-nunda hingga besok, sederhananya sifat pemalas, prokrastinasi banyak menghinggapi pemuda kita, banyak rebahan, hanya scroll sosial media dari pagi ketemu pagi, jauh dari semangat pemuda 94 tahun yang lalu.

BACA JUGA :  Mengenal Hipnoterapis Muda di Kaltim

Pemuda itu bergerak sekarang juga, tak ada tempat untuk prokrastinasi, mengenal diri dan potensi diri memudahkan kita memetakan apa tujuan kita ke depan, 5 tahun, 10 tahun mendatang pun kita sudah mengetahui apa yang ingin kita capai.

Saya ingat peribahasa China dari Confucius, kurang lebih seperti ini “Orang yang kuat mencari sesuati (potensi) di dalam dirinya sendiri, sementara orang yang lemah mencari sesuatu pada diri orang lain”.

Dari peribahasa itu ada hikmah yang bisa kita ambil, semua hal itu berawal dari diri sendiri, menggali semua potensi diri menjadi modal dasar untuk kemajuan dan kesuksesan di masa depan.

Namun, tunggu dulu, bukan hanya soal prokrastinasi, kemalasan, dan janji tanpa aksi, ada hal yang lebih meresahkan saya sebagai milenial, fakta menarik sekaligus memilukan adalah 1 dari 20 (sekitar 5.5%) remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental, mengacu pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V) keluaran American Psychological Association (APA).

Artinya, sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia termasuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), keinginan bunuh diri tinggi, ingatan saya melayang pada awal Oktober 2022 ini tentang seorang mahasiswa di Yogyakarta yang bunuh diri.

Angka 2,45 Juta ini bukan sedikit, bayangkan banyak nyawa anak-anak kita melayang begitu saja di tangannya sendiri, latarbelakang pun bermacam-macam, namun semua mengacu kepada ketidakmampuan diri mengelola stress, emosi dan pikiran, ditambah semuanya memiliki kecendrungan memiliki traumatis dari orang terdekat, dari keluarga sampai teman terdekatnya.

Ada benarnya orang terdekatlah yang paling menyakiti kita, ini menjadi catatan saya, kekhawatiran saya, untuk itulah jika ada kegiatan kepemudaan, remaja apalagi di sekolah saya sangat bersemangat menularkan kebaikan, semangat untuk menggapai cita-cita, menggebu dalam memperbaiki mindset remaja.

BACA JUGA :  Tetap Sehat di Masa Sulit, Pegadaian Diganjar Penghargaan Top BUMN 2022

Saya analogikan pemuda itu harusnya seperti ikan, seumur hidupnya berada di laut, ketika dimakan dagingnya tidak terasa asin karena ia memiliki sistem biofilter dalam tubuhnya, Pemuda Indonesia juga harusnya semacam itu, lingkungan semerawut apapun, sejelek apapun ketika kita memiliki filter, maka kita tidak akan terwarnai dengan kejelekkan tersebut.

Pemuda memiliki prinsip yang di pegang teguh dan tak akan melanggar sumpahnya, sumpah yang diikrarkan 94 tahun yang lalu, terus bergerak, berkembang, dan memberikan kerja dan karya nyata untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button