Ragam

Waspada El Nino 2026, BMKG Prediksi Kemarau Lebih Kering Hingga Oktober

Garda.co.id, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan memasuki level yang sangat kuat hingga pertengahan Oktober mendatang. Kondisi ini berisiko memicu kemarau panjang di sejumlah daerah di Indonesia.

Dilansir dari Antara, Dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa hasil pemantauaan pihaknya saat ini El Nino memiliki indeks ENSO sebesar +1,59 yang berada pada kategori kuat.

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat,” terangnya.

Dirinya mengungkapkan bahwa BMKG telah memberi himbauan potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026 lalu, saat fenomena diproyeksikan masih berada di kategori moderat. Setelah itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) resmi menetapkan El Nino telah aktif pada 2 Juni.

Teuku menilai fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di beberapa daerah di Indonesia rendah hal ini mengakibatkan kemarau lebih kering dan terjadi lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologis normal.

Pada bulan Agustus hingga September 2026 diperkirakan curah hujan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Pada pertengahan bulan Oktober diperkirakan Indonesia baru memasuki musim hujan.

El Nino yang mulai aktif pada Juni 2026, lanjut Teuku, diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027 mendatang. Namun selama durasi tersebut tidak berarti Indonesia mengalami musim kemarau.

“Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Pemprov Kaltim Cairkan Rp44,15 Miliar untuk Program Pendidikan Gratispol di Tujuh PTN

BMKG mencatat dampak El Nino tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. Wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, hingga Sumatera bagian selatan diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi klimatologis normal.

Sebaliknya, kawasan pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan yang signifikan karena memiliki karakteristik pola hujan yang berbeda.

Teuku menerangkan bahwa menguatnya El Nino berpotensi memberi dampak luas terhadap berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan sistem irigasi, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, sektor energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah melakukan berbagai upaya antisipasi sejak beberapa bulan terakhir. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk menambah cadangan air di bendungan yang kapasitasnya mulai menurun, sekaligus mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Back to top button