Ragam

654 Hektare Lahan Pertanian Samarinda Terdampak Kekeringan, Petani Mulai Diingatkan Ancaman Pergeseran Musim Tanam

Garda.co.id, SAMARINDA – Musim kemarau mulai menekan sektor pertanian di Samarinda. Ketersediaan air menjadi persoalan yang perlu diantisipasi pemerintah, setelah sekitar 654,5 hektare lahan pertanianterdampak kekeringan.

Meski luasan lahan yang terdampak cukup besar, kondisi tersebut sejauh ini belum memicu ancaman gagal panen dalam skala besar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) Samarinda, Darham, mengatakan sebagian besar petani saat ini masih berada dalam periode panen sehingga kebutuhan air di lahan relatif rendah.

“Untuk sementara potensi gagal panen masih kecil karena sebagian besar petani sedang panen. Pada masa panen, kebutuhan air memang harus dikurangi,” ujar Darham.

Namun, persoalan diperkirakan mulai muncul setelah panen berakhir. Petani membutuhkan pasokan air untuk kembali mengolah lahan dan memulai musim tanam berikutnya.

Darham khawatir kemarau berkepanjangan membuat jadwal tanam bergeser. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu siklus produksi apabila petani tidak dapat segera kembali menanam setelah panen.

“Yang perlu kita antisipasi adalah pergeseran musim tanam. Setelah panen, petani seharusnya bisa segera menanam kembali, dan pada saat itu ketersediaan air harus mencukupi,” jelasnya.

Pemerintah saat ini masih berupaya memanfaatkan sumber air yang tersedia di sejumlah wilayah. Namun, kondisi masing-masing kawasan berbeda sehingga tidak semua lahan memiliki akses terhadap sumber air yang memadai.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian berada di kawasan Pulau Atas. Di lokasi tersebut, masuknya air laut mulai menjadi kendala lantaran petani selama ini mengandalkan sistem pasang surut sungai.

“Air laut sudah mulai masuk sehingga airnya tidak bisa lagi digunakan seperti biasanya. Di sana pertanian sangat bergantung pada pasang surut sungai,” katanya.

BACA JUGA :  Waspada Rabies, Disnak Keswan Kaltim Berikan Himbauan untuk Vaksin Hewan Peliharaan

Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu produktivitas pertanian apabila berlangsung hingga memasuki musim tanam. Pemerintah berharap petani tetap mampu mempertahankan target produksi dan menjalankan lebih dari satu kali panen dalam setahun.

Darham menyebut lahan yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 654,5 hektare dan tersebar pada berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, sayuran, tanaman hortikultura, singkong, ubi hingga kacang-kacangan.

Meski demikian, pemerintah belum menemukan dampak gagal panen yang signifikan. Salah satu faktornya karena sebagian besar lahan terdampak masih berada dalam periode panen.

“Syukurlah sebagian besar petani sedang panen. Setelah panen, lahan juga memang membutuhkan waktu untuk beristirahat,” tuturnya.

Kendati demikian, risiko gagal panen akan meningkat apabila kekeringan berlanjut hingga satu bulan tanpa dukungan pengairan. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat lahan pertanian semakin rentan mengalami kerusakan produksi.

“Kalau sampai sebulan tidak mendapat pengairan, potensi gagal panen mulai menjadi persoalan. Itu yang nantinya akan menjadi prioritas penanganan,” tegas Darham.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Ketapangtani mulai menyiapkan kebutuhan bantuan bagi petani. Bantuan yang dipersiapkan meliputi pompa air, selang, benih hingga pembangunan sumur bor pada lokasi yang memungkinkan.

Pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan pompa berkapasitas besar agar distribusi air ke lahan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Darham mengatakan kebutuhan anggaran bantuan tersebut telah dituangkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Namun, usulan masih harus melalui tahapan seleksi dan penyesuaian.

“Usulan yang kami hitung sekitar Rp183 juta untuk bantuan peralatan dan benih. Sejauh ini persoalannya lebih pada kekurangan air, bukan gagal panen,” terangnya.

Apabila pompa maupun sumber air belum tersedia di lokasi terdampak, pemerintah menyiapkan alternatif berupa distribusi air menggunakan kendaraan tangki.

BACA JUGA :  Pererat Silaturahmi Keluarga Jawa, Zaefuddin Zuhri Gagas Sijaka

Darham menyebut pihaknya dapat berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran maupun BPBD Samarinda untuk mendukung penyaluran air ke lahan yang membutuhkan.

“Kalau pompanya belum tersedia, untuk sementara bisa menggunakan mobil tangki. Prinsipnya, bantuan air harus bisa disalurkan secepat mungkin,” tukasnya.

Back to top button