IHGMA Dorong Agenda Nasional Digelar di Kaltim, Okupansi Hotel Masih Bertahan di Angka 50 Persen
Garda.co.id, SAMARINDA – Tingkat hunian hotel di Kalimantan Timur hingga pertengahan 2026 masih berada di kisaran 50 persen. Meski menunjukkan tren membaik dibanding beberapa bulan sebelumnya, pelaku industri perhotelan menilai angka tersebut belum cukup untuk mendorong pemulihan sektor pariwisata maupun menggerakkan roda perekonomian daerah secara optimal.
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kalimantan Timur, Hendri Kurniawan, mengatakan penyelenggaraan agenda berskala nasional di Kaltim menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif untuk meningkatkan tingkat hunian hotel sekaligus menghidupkan sektor usaha lainnya.
“Selama semester pertama tahun ini tingkat hunian hotel masih berada di kisaran 50 persen. Memang ada peningkatan, tetapi jika dibandingkan tahun lalu, kondisinya masih sedikit lebih rendah,” ujarnya.
Menurut Hendri, usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Ia menilai kegiatan yang melibatkan kementerian, lembaga, organisasi nasional, hingga ajang olahraga mampu mendatangkan peserta dari berbagai daerah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan okupansi hotel.
“Kalau ada kegiatan berskala nasional, peserta datang dari banyak daerah, bahkan dari Jakarta. Kondisi seperti itu sangat membantu meningkatkan okupansi hotel sekaligus menggerakkan roda ekonomi,” katanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur juga menunjukkan kondisi serupa. Pada April 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat sebesar 50,26 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, namun masih relatif setara dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu.
Hendri menegaskan, rendahnya tingkat hunian hotel tidak hanya berdampak pada operasional industri perhotelan, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor usaha yang menjadi bagian dari rantai pasoknya.
“Hotel itu menggerakkan banyak sektor. Kami membeli bahan pangan dari petani, peternak, hingga pelaku usaha lainnya. Kalau tingkat hunian turun, otomatis permintaan terhadap produk mereka juga ikut berkurang,” terangnya.
Ia menambahkan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi pihak yang turut merasakan dampak ketika aktivitas hotel menurun. Karena itu, pemerintah diharapkan memandang industri perhotelan sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi daerah yang saling terhubung.
“Bukan hanya hotel yang terdampak ketika okupansi rendah, tetapi juga UMKM dan berbagai usaha pendukung lainnya. Karena itu, ekosistem ini perlu dijaga bersama,” tegasnya.
IHGMA berharap sejumlah agenda nasional yang akan digelar di Kalimantan Timur dalam beberapa bulan ke depan mampu menjadi pengungkit peningkatan okupansi hotel. Selain menguntungkan sektor perhotelan, kegiatan tersebut juga diyakini akan memberikan efek berganda bagi sektor kuliner, transportasi, perdagangan, hingga pelaku UMKM di daerah.






