Gerakan Pangan Murah Disketapang Kukar, Pasarkan Hasil Petani Lokal dan Jaga Stabilitas Harga
Garda.co.id, Tenggarong – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang rutin digelar Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kutai Kartanegara (Kukar) tak hanya membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
Program ini menjembatani langsung antara petani dan konsumen, memotong rantai distribusi yang panjang, dan memastikan harga jual yang lebih layak bagi petani sekaligus harga beli yang terjangkau bagi masyarakat.
“Selama ini petani seringkali tertekan oleh harga yang ditentukan tengkulak. Melalui GPM, kami berikan ruang bagi mereka untuk langsung menjual hasil panennya kepada masyarakat,” ujar Kepala Disketapang Kukar, Sutikno, Selasa (1/4/2025).
GPM rutin digelar di sejumlah titik strategis seperti area Car Free Day Tenggarong, Kecamatan Loa Kulu setiap Selasa, dan di depan Mal Pelayanan Publik setiap Jumat.
Di lokasi-lokasi ini, masyarakat bisa membeli beras, cabai, bawang, telur, dan komoditas lain hasil produksi petani lokal dengan harga di bawah pasar.
Menurut Sutikno, pola ini tidak hanya menjaga kestabilan harga pangan, tapi juga membuka pasar alternatif yang lebih sehat bagi pelaku usaha pertanian di Kukar.
Para petani pun mulai menyadari bahwa mereka bisa punya posisi tawar lebih baik jika mendapat akses langsung ke konsumen.
“GPM adalah strategi dua arah. Di satu sisi kami bantu masyarakat, di sisi lain kami kuatkan petani lokal sebagai garda depan ketahanan pangan,” tambahnya.
Disketapang Kukar secara aktif menggandeng kelompok tani, koperasi pertanian, dan pelaku UMKM pangan untuk ikut dalam program GPM.
Produk-produk lokal yang dijual di GPM kini semakin beragam, bahkan beberapa di antaranya merupakan hasil olahan pangan berbasis kearifan lokal.
Tak hanya sebatas pasar, GPM juga menjadi ruang kolaborasi dan promosi bagi para petani dan UMKM.
Pemerintah memberikan pendampingan agar mereka bisa menjaga kualitas produk, menetapkan harga yang bersaing, hingga memperluas pemasaran ke skala yang lebih besar.
“Kalau dulu mereka menunggu pembeli, sekarang mereka kami dorong untuk proaktif. GPM kami jadikan panggung bagi mereka agar dikenal masyarakat,” jelas Sutikno.
Ke depan, Disketapang Kukar berencana memperkuat kemitraan dengan OPD terkait serta memperluas cakupan GPM ke kecamatan-kecamatan lain, agar semakin banyak petani lokal yang bisa terlibat dan merasakan manfaat langsung.
“Semakin besar partisipasi petani dalam GPM, semakin kuat fondasi ketahanan pangan daerah. Ini misi jangka panjang kami,” tutup Sutikno.
Melalui sinergi antara petani, pemerintah, dan masyarakat, GPM bukan hanya jadi alat pengendali inflasi, tetapi juga gerakan pemberdayaan yang memperkuat ekonomi rakyat dari akar rumput. (Mft/Adv/DiskominfoKukar)






