Bangkitkan Denyut Pasar Pagi, Disdag Tata Kios dan Siapkan Agenda Event
Garda.co.id, SAMARINDA – Revitalisasi telah menghadirkan wajah baru Pasar Pagi Samarinda. Namun, megahnya bangunan belum sepenuhnya diiringi pulihnya aktivitas perdagangan. Masih adanya kios yang belum beroperasi membuat geliat pasar belum merata.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda menyiapkan langkah penataan kios sekaligus merancang berbagai agenda kegiatan untuk menarik kembali minat masyarakat berkunjung.
Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kondisi tersebut merupakan fase transisi yang lazim terjadi setelah pedagang menempati gedung baru. Menurutnya, anggapan bahwa seluruh aktivitas perdagangan lesu tidak sepenuhnya benar karena masih banyak pedagang yang tetap beroperasi dan menerima pasokan barang setiap hari.
“Ini masih pasar baru. Memang ada pedagang yang ramai, ada juga yang masih sepi. Kalau dibilang semuanya sepi, tidak juga. Buktinya masih banyak barang dagangan yang setiap hari masuk melalui lift untuk mengisi kios-kios yang tetap berjualan,” sebutnya.
Ia menjelaskan, belum meratanya aktivitas perdagangan dipengaruhi oleh masih adanya kios yang belum ditempati maupun pemilik kios yang belum mulai berjualan. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi jumlah pengunjung dan perputaran aktivitas di dalam pasar.
Karena itu, Disdag akan melakukan evaluasi terhadap pemegang kios yang belum aktif. Hingga akhir Agustus mendatang, pihaknya berencana berkomunikasi dengan para pemilik kios untuk memastikan komitmen mereka dalam menjalankan usaha di Pasar Pagi.
Apabila pemilik kios memutuskan tidak lagi melanjutkan usahanya, pemerintah akan mengalihkan kios tersebut kepada pedagang lain yang siap berjualan sehingga ruang usaha yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kami akan melakukan komunikasi dengan para pedagang. Kalau memang tidak berminat lagi berjualan, kiosnya akan kami tarik dan diberikan kepada pedagang yang benar-benar ingin berjualan. Karena ini merupakan aset milik Pemerintah Kota, bukan investasi pribadi,” imbuhnya.
Tak hanya menata pemanfaatan kios, Disdag juga menyusun strategi untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Salah satunya dengan menggandeng pengelola pasar, komunitas, maupun berbagai pihak lainnya untuk menggelar beragam kegiatan di area publik Pasar Pagi.
Nurrahmani berharap berbagai agenda tersebut dapat menjadi daya tarik baru sehingga masyarakat memiliki alasan untuk datang ke pasar dan aktivitas perdagangan ikut terdongkrak.
“Sudah ada pembahasan dengan pengelola untuk menghadirkan event di area publik pasar, bukan di lorong-lorong kios. Kami juga membuka kesempatan bagi komunitas atau pihak lain yang ingin mengadakan kegiatan di sana,” katanya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan kegiatan tersebut sebelumnya sempat dikaitkan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan. Namun, konsep pelaksanaannya masih terus dimatangkan agar benar-benar mampu menarik minat masyarakat.
Di sisi lain, Nurrahmani menilai perlambatan ekonomi juga menjadi faktor yang memengaruhi daya beli masyarakat. Karena itu, kondisi Pasar Pagi saat ini tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan keberadaan gedung baru hasil revitalisasi.
“Kondisi ekonomi saat ini memang sedang tidak mudah. Ada pengaruh efisiensi anggaran dan daya beli masyarakat yang menurun. Jadi bukan semata-mata karena lokasi atau bangunan pasarnya,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, Disdag menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pagi. Penataan kios yang belum aktif, pembukaan ruang bagi berbagai kegiatan publik, hingga evaluasi terhadap pemanfaatan kios diharapkan mampu mengembalikan keramaian pasar sekaligus memperkuat perputaran ekonomi para pedagang.
“Kami tidak ingin menyerah dengan kondisi yang ada. Justru kami terus mencari cara agar Pasar Pagi semakin ramai dan para pedagang bisa berjualan dengan lebih baik,” tutup Nurrahmani.






