Diskominfo Kukar

TPA Baru Jadi Titik Balik Pengelolaan Sampah di Kukar

 

Garda.co.id, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menata ulang pendekatan terhadap persoalan sampah, bukan lagi sekadar urusan buang dan urai, tetapi sebagai peluang menuju ekonomi sirkular yang berbasis pemberdayaan dan inovasi.

Melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Pemkab Kukar tengah mengkaji pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru yang bukan hanya lebih modern, tapi juga menjadi bagian dari sistem yang memutar kembali sampah menjadi nilai ekonomi.

Kajian ini menjadi bagian dari upaya strategis jangka panjang yang juga mencakup edukasi, daur ulang, dan pelibatan masyarakat.

“TPA baru ini bukan hanya pengganti Bekotok yang sudah tua. Ini titik balik. Kami ingin sistem yang tidak sekadar membuang sampah, tapi juga mengolah dan memanfaatkannya,” ujar Sekretaris DLHK Kukar, Taufiq, Sabtu (5/4/2025).

Rencana pembangunan difokuskan ke sistem controlled landfill, yang jauh lebih ramah lingkungan dibanding metode lama.

Sistem ini tidak hanya menekan polusi, tapi juga memudahkan pengelolaan sampah menjadi sumber energi dan kompos ke depannya.

Tiga lokasi tengah dikaji, dengan Loa Ipuh Darat dinilai paling potensial karena lokasi dan ketersediaan lahan.

Namun DLHK sadar, solusi sebenarnya dimulai jauh sebelum sampah masuk ke TPA.

Untuk itu, DLHK memperkuat program Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pengelolaan sampah dari sumbernya.

Sampah tak lagi dianggap limbah semata, melainkan sumber ekonomi mikro yang bisa dimonetisasi oleh rumah tangga dan pelaku UMKM daur ulang.

“Kami ingin masyarakat menjadi bagian dari rantai solusi, bukan hanya sebagai penghasil sampah. Sampah organik bisa diolah jadi kompos, anorganik bisa didaur ulang. Ada nilai ekonomi yang nyata di situ,” tambah Taufiq.

BACA JUGA :  Pemkab Kukar Targetkan 507 Tenaga Kerja Lokal Terlatih Sepanjang 2024

DLHK juga mendorong pelibatan komunitas pemuda, pengrajin, hingga bank sampah untuk menciptakan ekosistem pengelolaan berbasis lokal.

Langkah ini tak hanya mengurangi beban TPA, tapi juga membuka ruang kerja baru dan memperkuat kesadaran lingkungan dari akar rumput.

Pembangunan TPA baru pun diproyeksikan sebagai pusat edukasi dan inovasi, di mana teknologi pengolahan sampah dan sistem manajemen lingkungan dapat diperkenalkan ke publik, termasuk pelajar dan pelaku usaha.

“Kami tidak ingin hanya membangun tempat penampungan. Kami ingin membangun sistem yang berkelanjutan dan menjadi pusat pembelajaran,” ujar Taufiq.

Jika strategi ini berhasil, Kukar bisa menjadi salah satu daerah terdepan di Kalimantan Timur dalam penerapan model ekonomi sirkular berbasis lingkungan dan partisipasi warga. (Mft/Adv/DiskominfoKukar)

Back to top button