DPRD KukarPariwara

Ria Handayani: Banjir Tak Hanya Soal Air, Tapi Juga Soal Kehidupan Sosial

Garda.co.id, Kukar – Hujan yang turun deras di Tenggarong tak sekadar membawa genangan. Di balik aliran air yang memenuhi jalanan dan lorong-lorong permukiman, tersimpan keresahan yang semakin hari kian terasa dalam kehidupan warga.

Ria Handayani, Anggota DPRD Kukar dari Dapil Tenggarong, menyuarakan kegelisahan itu. Ia melihat banjir bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai ancaman nyata terhadap kehidupan sosial masyarakat.

“Ketika banjir datang, bukan hanya jalan yang tergenang. Tapi anak-anak jadi sulit sekolah, orang tua bingung harus tetap kerja atau menjaga rumah yang kemasukan air. Ini soal ritme hidup yang terganggu,” ujar Ria, Selasa (24/6/2025).

Menurutnya, situasi ini berulang setiap musim hujan. Titik-titik padat penduduk di Tenggarong seolah menjadi langganan genangan yang tak kunjung mendapat solusi tuntas. Dan jika dibiarkan, Ria khawatir akan menimbulkan efek sosial berantai.

“Kalau terus-menerus terjadi, masyarakat bisa mengalami tekanan psikologis. Hubungan sosial bisa renggang, aktivitas terganggu, dan bisa timbul konflik kecil antarwarga,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ria juga menyoroti risiko kesehatan yang mengintai. Lingkungan yang lembab dan tergenang menjadi tempat berkembang biaknya penyakit. Anak-anak dan lansia yang termasuk kelompok rentan jadi korban pertama dari dampak ini.

“Air yang menggenang jadi sarang nyamuk. Kita bicara potensi DBD, penyakit kulit, sampai infeksi saluran pernapasan. Kalau tidak diantisipasi dari sekarang, kita bukan hanya bicara drainase, tapi krisis kesehatan,” tegasnya.

Ria menekankan bahwa penanganan banjir tak bisa setengah hati. Ia mendesak agar proyek perbaikan drainase dijadikan prioritas pembangunan infrastruktur di wilayah Tenggarong. Namun lebih dari itu, ia mendorong pendekatan yang bersifat partisipatif.

“Warga harus dilibatkan. Mereka perlu tahu bagaimana cara menjaga saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, dan ikut mengawasi pelaksanaan proyek. Ini soal kesadaran bersama,” katanya.

BACA JUGA :  Temui Pelajar Kaltim Di Hadramaut, Reza Ungkapkan Kondisi Mereka

Kolaborasi, menurut Ria, menjadi kunci. OPD, DPRD, dan masyarakat harus duduk bersama, membangun peta rawan banjir yang akurat, lalu merancang solusi yang menyeluruh. Bukan sekadar tambal sulam proyek musiman.

“Kalau drainasenya berfungsi, masyarakat bisa hidup lebih nyaman dan sehat. Anak bisa sekolah tanpa hambatan, pedagang bisa berjualan tanpa takut dagangan kebanjiran,” lanjutnya.

Baginya, banjir bukan hanya tantangan infrastruktur, melainkan juga panggilan kepedulian sosial. Ria berharap penanganan ke depan tidak lagi bersifat reaktif, tapi menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.

“Kita ingin membangun lingkungan sosial yang tangguh dan adaptif. Bukan masyarakat yang tiap tahun jadi korban banjir, tapi masyarakat yang berdaya dan siap menghadapi perubahan,” tutupnya.

Dengan suara yang jernih dan penuh kepedulian, Ria Handayani mengingatkan semua pihak bahwa air yang tergenang mungkin akan surut, tapi dampaknya pada kehidupan warga tak bisa diabaikan begitu saja. (Adv/fa)

Back to top button