Ragam

Syarifatul : Maratua Harus Dijaga, M2F Jadi Bukti Budaya, Pariwisata, dan Konservasi Bisa Berjalan Beriringan

Garda.co.id, BERAU – Gemuruh musik tradisional, semarak budaya, dan aksi pelestarian lingkungan menyatu dalam kemeriahan Maratua Music Festival (M2F) 2026. Selama lima hari, sejak 30 Juni hingga 4 Juli 2026, Pulau Maratua tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga menegaskan komitmennya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Festival yang dirangkai dengan Maratua Pesta Adat Dakayu Malatua itu menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari Mak Igal atau lomba tari tradisional, Malatua Mak Dendang (lomba karaoke), tradisi Nunu Daing atau bakar ikan bersama, hingga penampilan musisi Muhammad Budhi Setiyawan atau Whansetiyawan yang memainkan alat musik tradisional Dayak, Sape.

Tak hanya itu, M2F juga dimeriahkan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penampilan band ibu kota, penanaman pohon, serta pelepasan tukik ke laut sebagai simbol komitmen bersama menjaga ekosistem Pulau Maratua.

Di tengah kemeriahan festival, Anggota DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Sya’diah, turut hadir bersama anggota Komisi III DPRD Kaltim, Husin Djufri, yang berasal dari daerah pemilihan Berau, Kutai Timur, dan Bontang.

Menurut Syarifatul, Maratua Music Festival kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda hiburan tahunan. Festival tersebut dinilai berhasil memadukan pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.

“Yang membuat Maratua istimewa bukan hanya lautnya yang indah atau pantainya yang memesona, tetapi masyarakatnya yang masih menjaga tradisi dan memiliki kepedulian terhadap alam. Nilai-nilai seperti inilah yang harus terus dirawat karena menjadi identitas Maratua,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Politisi dari daerah pemilihan Berau, Kutai Timur, dan Bontang itu menilai aksi penanaman pohon serta pelepasan tukik menjadi pesan kuat bahwa pengembangan sektor pariwisata harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

BACA JUGA :  BPS Sampaikan Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Berikan Hasil Positif Pada Triwulan I 2026

Menurutnya, daya tarik utama Maratua justru terletak pada ekosistem laut yang masih terjaga, mulai dari terumbu karang, kawasan pesisir, hingga habitat satwa yang menjadi kekayaan alam pulau tersebut.

“Kalau alamnya tetap terjaga, wisatawan akan terus datang. Sebaliknya, kalau kita mengabaikan lingkungan, perlahan daya tarik Maratua akan hilang. Karena itu, konservasi bukan pilihan, tetapi menjadi syarat utama agar pariwisata di Maratua terus berkelanjutan,” tuturnya.

Syarifatul juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam setiap rangkaian kegiatan festival. Menurutnya, M2F tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian lokal melalui peningkatan aktivitas UMKM, pengrajin, nelayan, pelaku seni, hingga sektor jasa pariwisata.

Ia berharap Maratua Music Festival terus dikembangkan sebagai agenda wisata unggulan Kalimantan Timur yang memiliki karakter dan daya tarik tersendiri. Perpaduan budaya lokal, keindahan laut tropis, dan komitmen masyarakat menjaga lingkungan dinilai menjadi modal besar untuk menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Saya mengajak masyarakat Indonesia bahkan wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke Maratua. Datanglah untuk menikmati keindahan lautnya, mengenal budaya masyarakatnya, mencicipi kulinernya, dan melihat bagaimana masyarakat di sini hidup berdampingan dengan alam,” ajaknya.

“Ketika datang ke sini, mari menjadi wisatawan yang bertanggung jawab. Jangan meninggalkan sampah, jangan merusak terumbu karang, dan mari bersama menjaga surga kecil ini agar tetap lestari,” sambungnya.

Ia meyakini promosi pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan iklan maupun media sosial, tetapi harus dibarengi komitmen menjaga kualitas lingkungan. Menurutnya, pengalaman terbaik yang akan dibawa pulang wisatawan adalah ketika mereka menemukan Maratua tetap bersih, alami, dan dihuni masyarakat yang ramah.

Maratua Music Festival 2026 resmi ditutup pada Sabtu (4/7/2026) malam. Bagi masyarakat setempat, festival tersebut bukan sekadar akhir dari rangkaian hiburan, melainkan penegasan bahwa budaya, konservasi, dan pariwisata dapat tumbuh berdampingan sebagai kekuatan untuk membawa nama Maratua semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional.

BACA JUGA :  Gawat, Bendungan Benanga Lempake Naik Status Siaga
Back to top button