Ragam

Bendungan Benanga Kritis, Cadangan Air Diprediksi Hanya Bertahan 5–6 Hari

Garda.co.id, SAMARINDA – Cadangan air di Bendungan Benanga Lempake, Samarinda, terus menyusut di tengah kemarau panjang. Jika hujan tak kunjung turun, persediaan air baku untuk Perumdam Tirta Kencana Samarinda diperkirakan hanya mampu bertahan lima hingga enam hari.

Kepala Unit Pengelola Bendungan Benanga, Hayu Wardana, mengatakan tinggi muka air (TMA) Bendungan Benanga Lempake kini berada di level 6,4 meter. Kondisi tersebut telah masuk kategori kritis karena muka air terus mengalami penurunan.

“Sekarang TMA berada di 6,4 meter. Untuk kondisi kekeringan, ini sudah masuk kategori kritis,” ujar Hayu pada, Rabu (16/9/2026).

Penurunan muka air berdampak langsung pada pengambilan air baku untuk kebutuhan Perumdam. Saat ini, pengambilan hanya sekitar 30–40 persen dari kapasitas sebelumnya, dengan debit kurang lebih 100 liter per detik.

Hayu menjelaskan, kondisi akan semakin mengkhawatirkan jika TMA menyentuh batas minimum operasional bendungan, yakni 6 meter. Pada level tersebut, pengambilan air baku untuk produksi Perumdam berpotensi tidak lagi berjalan maksimal.

“Kalau nanti TMA turun sampai 6 meter, kemungkinan PDAM sudah tidak mampu lagi melakukan pengambilan air baku untuk produksinya,” jelasnya.

Tak hanya berdampak pada kebutuhan air baku, kekeringan juga menghentikan fungsi Bendungan Lempake sebagai sumber pengairan pertanian. Distribusi air ke daerah irigasi Belimau dan Betapus telah dihentikan sejak awal September karena debit air tidak lagi mencukupi.

“Untuk irigasi sekarang sudah kami hentikan. Daerah irigasi Belimau dan Betapus sudah tidak bisa mendapatkan pengairan. Penghentian ini dilakukan sejak awal September,” ungkap Hayu.

Sejumlah langkah antisipasi pun mulai disiapkan. Bantuan pompa disediakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di wilayah terdampak kekeringan. Balai Wilayah Sungai (BWS) juga menyiapkan armada tangki air apabila distribusi air kepada masyarakat diperlukan.

BACA JUGA :  Warga Bukit Merdeka Blokade Jalan Hauling Milik PT Lembuswana Perkasa

Di tengah keterbatasan tersebut, sisa air di Bendungan Lempake kini diprioritaskan untuk kebutuhan air baku. Pengambilan dilakukan secara terbatas dengan debit sekitar 100 liter per detik.

Berdasarkan perhitungan pengelola bendungan, cadangan air tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan lima hingga enam hari jika tidak ada tambahan air hujan.

“Dari perhitungan penurunan muka air yang terjadi, kami memperkirakan masih sekitar lima sampai enam hari. Kalau tidak ada hujan yang masuk ke tampungan, PDAM kemungkinan harus berhenti mengambil air,” terangnya.

Hayu menyebut kondisi ini merupakan dampak dari periode kering yang berlangsung cukup panjang. Hujan terakhir yang tercatat di kawasan Bendungan Lempake terjadi sekitar pertengahan hingga akhir Juli.

Sejak saat itu, belum ada hujan dengan intensitas yang cukup untuk menambah volume tampungan bendungan.

“Catatan kami, hujan terakhir terjadi sekitar pertengahan Juli. Setelah itu sampai sekarang belum ada hujan lagi yang berarti di kawasan Bendungan Lempake. Karena itu, kondisi saat ini sudah masuk kekeringan ekstrem,” tukas Hayu.

Back to top button