Cegah Bunuh Diri Di Jembatan, Novan Minta Pemerintah Lakukan Penambahan Infrastruktur Pengamanan
Garda.co.id, SAMARINDA – Data Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menunjukkan adanya peningkatan kasus hingga 60 persen dalam lima persen atas kasus bunuh diri.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengatakan angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia mencapat 3,7 per 100 ribu jiwa.
Seperti yang terjadi di Kota Samarinda beberapa belakangan ini, banyak percobaan bunuh diri di titik titik fasilitas umum seperti Jembatan.
Merespon hal tersebut, DPRD Kota Samarinda mendorong pemerintah untuk bertindak cepat dengan meningkatkan aspek keselamatan di sejumlah jembatan yang rawan digunakan sebagai tempat percobaan bunuh diri.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengungkapkan penambahan pembatas fisik di sejumlah jembatan menjadi upaya untuk menanggulangi percobaan bunuh diri.
“Jembatan Mahakam menurut saya sudah perlu dilengkapi pagar pengaman. Dengan adanya pembatas, setidaknya dapat mengurangi peluang seseorang melakukan tindakan yang membahayakan dirinya,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi jalur pedestrian di Jembatan Mahakam maupun Jembatan Kembar saat ini masih minim perlindungan. Pejalan kaki hanya dibatasi trotoar tanpa pengaman yang mengarah ke sungai, sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, fasilitas pengaman di kedua jembatan itu memang belum memadai. Ini yang perlu segera dipertimbangkan untuk dipasang,” ulasnya.
Selain penambahan pengamanan fisik, Novan menuturkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menekan angka bunuh diri. Pengurus Rukun Terangga (RT) harus lebih aktif mengentahui permasalahan sosial yang menimpah warganya, dengan ini maka tekanan psikologis dapat cepat terdeteksi.
“RT menjadi garda terdepan di lingkungan. Kalau ada tanda-tanda persoalan dalam keluarga atau masyarakat, sebaiknya bisa segera dilakukan pendekatan sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar,” harapnya.
Lanjut Novan, sebenarnya pemerintah memiliki program unggulan seperti pembinaan keluarga melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPP2KB). Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung terhadap peran masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Novan juga menambahkan bahwa layanan kesehatan jiwa sebenarnya telah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, baik di puskesmas maupun rumah sakit. Maka dari itu, dirinya mengajak masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan layanan tersebut ketika mengalami tekanan psikologis.
“Fasilitas konseling dan layanan psikologi sudah tersedia. Yang penting masyarakat mau memanfaatkannya ketika membutuhkan bantuan,” jelasnya.
Novan menghimbau kepada seluruh masyarakat jika memiliki permasalahan hidup untuk tidak dipendam sendiri dan berujung pada perbuatan tercela. Dirinya mendorong untuk mencari dukungan dari keluarga, kerabat, tokoh yang dipercaya, serta pendalaman spritual keagamaan.
“Kalau sedang menghadapi masalah, jangan dipikul sendiri. Ceritakan kepada keluarga atau orang yang dipercaya, dan tetap mendekatkan diri kepada Tuhan. Dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting agar persoalan tidak berujung pada keputusan yang merugikan diri sendiri,” pungkas Novan. (Dry/Adv/DPRDSamarinda)






