Tragedi di RSUD AWS Buka Mata DPRD Kaltim: Dukungan Mental Pasien Kronis Harus Jadi Prioritas
Garda.co.id, Samarinda – Kejadian memilukan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, membuka babak baru dalam diskusi seputar pentingnya kesehatan mental di layanan medis. Seorang pasien lansia penderita gagal ginjal kronis ditemukan tewas bunuh diri di ruang rawat, memantik keprihatinan mendalam berbagai pihak, termasuk DPRD Kalimantan Timur.
Insiden yang terjadi pada 6 Juli 2025 itu bukan sekadar tragedi personal. Bagi Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, peristiwa ini adalah sinyal keras bahwa sistem pelayanan kesehatan kita belum cukup peka terhadap beban mental pasien, terutama yang harus bergulat lama dengan penyakit berat.
“Pasien datang ke rumah sakit dengan harapan. Tapi ketika harapan itu makin tipis, dan beban mental tidak dipedulikan, maka keputusasaan bisa mengambil alih,” ungkap Sarkowi.
Dirinya menekankan bahwa tragedi seperti ini bisa memiliki efek domino secara psikologis, apalagi di lingkungan rawat inap di mana banyak pasien berbagi cerita dan rasa takut yang sama. “Bukan tidak mungkin akan muncul sugesti negatif di benak pasien lain—bahwa bunuh diri bisa jadi jalan keluar,” tambahnya.
Menurut Sarkowi, pendekatan kesehatan di rumah sakit selama ini masih terlalu berfokus pada aspek fisik. Padahal, pasien dengan tekanan emosional berat butuh perlakuan khusus, termasuk dari tenaga profesional di bidang psikologi.
“Selama ini, pasien hanya dibedakan berdasarkan penyakit, bukan kondisi mental. Padahal ada yang butuh pendampingan emosional lebih dalam,” tegasnya.
Untuk itu, pihaknya mendorong agar setiap rumah sakit pemerintah mulai mengintegrasikan layanan psikolog klinis ke dalam sistem perawatan, terutama bagi pasien-pasien kronis. Sarkowi juga membuka kemungkinan untuk kerja sama antara rumah sakit dengan fakultas psikologi di berbagai kampus di Kaltim.
“Kalau perlu tambahan anggaran untuk itu, DPRD siap membahasnya. Kita tidak bisa biarkan kesehatan mental tetap jadi nomor dua. Nyawa taruhannya,” ujarnya.
Sarkowi juga menyarankan agar program sosial seperti Jospol diperluas jangkauannya, tak hanya soal ekonomi, tapi juga mencakup aspek psikologis pasien.
Tragedi ini, kata dia, seharusnya tak sekadar menjadi berita sesaat. Tapi jadi momentum pembenahan. Bukan hanya demi mencegah kejadian serupa, tapi juga untuk memastikan bahwa rumah sakit adalah tempat yang menyembuhkan—bukan sekadar secara fisik, tapi juga batin. (Dry/Adv/DPRDKaltim)






