Distanak Kukar Genjot Daya Saing Produk Lokal Lewat Anggaran Rp 216 Miliar
Garda.co.id, Tenggarong – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) memfokuskan arah kebijakan tahun 2025 pada penguatan hilirisasi dan peningkatan daya saing produk pertanian lokal.
Dengan total anggaran mencapai Rp 216 miliar, strategi ini sejalan dengan visi besar program “Kukar Idaman” yang menempatkan sektor pertanian sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, mengatakan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar produk pertanian Kukar tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga bernilai tambah tinggi di pasar regional hingga nasional.
“Jika selama ini kita kuat di produksi, kini saatnya kita dorong pengolahan hasil pertanian dan keterhubungan ke pasar. Hilirisasi akan membuka lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani,” ujar Taufik, Rabu (25/6/2025).
Anggaran 2025 akan dialokasikan untuk penguatan sarana produksi, pembangunan jaringan irigasi, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pelatihan kewirausahaan pertanian bagi kelompok tani.
Lima kawasan prioritas tetap menjadi fokus pengembangan, terutama di wilayah dengan potensi ekspansi usaha tani dan agribisnis.
Taufik menjelaskan bahwa program ini merupakan respons terhadap aspirasi petani, kunjungan lapangan pimpinan daerah, serta pokok pikiran DPRD.
Fokus pembangunan tak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga mencakup distribusi dan pemasaran yang berkelanjutan.
“Kita ingin komoditas seperti cabai, tomat, timun, dan hasil ternak Kukar punya brand dan jaringan pasar sendiri. Kalau perlu, kita bangun rumah kemas dan cold storage di sentra produksi,” jelasnya.
Selain dari APBD, Distanak Kukar juga mendapat tambahan dukungan dana pusat sekitar Rp 40 miliar yang dialokasikan untuk penguatan pertanian di empat kecamatan pesisir.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan geografis dan cuaca ekstrem yang sempat melanda beberapa wilayah pertanian.
Subsektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam strategi hilirisasi. Produksi daging ayam lokal yang cukup melimpah mulai diarahkan untuk masuk pasar olahan dan ritel modern.
Sementara populasi sapi dan kambing terus ditingkatkan melalui program intervensi populasi dan dukungan infrastruktur peternakan.
“Kita mulai bicara value chain, bukan sekadar panen dan jual. Ada potensi besar untuk olahan sayur, sambal, telur asin, hingga sosis daging lokal yang bisa kita kembangkan,” tambah Taufik.
Distanak juga menggandeng pelaku usaha kecil dan koperasi untuk menjadi bagian dari rantai hilir pertanian. Edukasi digital marketing, pengemasan, dan branding produk lokal mulai diberikan kepada kelompok tani dan UMKM berbasis pertanian.
Taufik berharap, dengan pendekatan hilirisasi ini, Kukar tidak hanya menjadi lumbung pangan regional, tetapi juga pusat produk pertanian bernilai tambah tinggi.
“Kita ingin Kukar punya produk-produk unggulan yang dikenal luas, bukan hanya karena hasil panennya banyak, tapi karena kualitas dan inovasinya,” tutupnya.
Dengan penguatan hilirisasi dan daya saing, Distanak Kukar optimistis sektor pertanian dan peternakan akan semakin menarik bagi generasi muda dan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Mft/Adv/DiskominfoKukar)






