DPRD Kukar Dorong Pemulihan Psikologis Santri Pasca Kasus Dugaan Pencabulan
Garda.co.id, Tenggarong– DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) menaruh perhatian serius terhadap pemulihan psikologis para santri menyusul kasus dugaan pencabulan yang terjadi di salah satu pesantren.
Komisi IV menegaskan bahwa pendampingan mental menjadi langkah prioritas agar trauma tidak berkepanjangan.
Ketua Komisi IV DPRD Kukar, Andi Faisal, menjelaskan bahwa pendampingan tidak hanya difokuskan pada korban, tetapi juga pada seluruh santri dan keluarga mereka.
“Korban dan keluarganya tentu mendapat perhatian utama. Tapi kita juga ingin memastikan seluruh santri mendapat pendampingan agar tetap merasa aman dan nyaman menjalani pendidikan,” ucap Faisal usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV, belum lama ini.
Sebagai langkah awal, DPRD Kukar bekerja sama dengan pihak terkait berencana mengundang RSUD AM Parikesit untuk melakukan skrining psikologis terhadap santri. Langkah ini diharapkan dapat mendeteksi kebutuhan pendampingan sejak dini.
Menurut Faisal, skrining ini tidak hanya ditujukan bagi korban, tetapi juga seluruh santri di pesantren tersebut.
“Kita ingin memastikan kondisi psikologis mereka tetap stabil. Jangan sampai ada yang diam-diam mengalami trauma, tapi tidak terdeteksi sejak dini,” jelasnya.
Hasil skrining akan menjadi dasar pemberian pendampingan lebih lanjut, baik melalui konseling maupun terapi khusus, sehingga santri bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut atau cemas berlebihan.
Faisal menambahkan, keterlibatan pihak eksternal, termasuk tenaga profesional dari rumah sakit dan psikolog, menjadi kunci dalam memastikan pemulihan berjalan efektif.
“Kalau hanya mengandalkan pihak internal, khawatir ada yang luput. Karena itu kami libatkan tenaga medis dan psikolog dari rumah sakit,” ungkapnya.
DPRD Kukar bersama tim ad hoc juga akan mengawal proses pemulihan ini secara berkelanjutan, bukan hanya sekali pemeriksaan. Pemantauan rutin akan memastikan kondisi santri benar-benar pulih.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya DPRD Kukar untuk membangun lingkungan pendidikan pesantren yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa, sekaligus memperkuat perlindungan anak di lembaga pendidikan berbasis agama.
“Pemulihan psikologis ini harus menjadi prioritas. Anak-anak adalah generasi penerus, mereka harus dilindungi secara penuh,” tegas Andi Faisal. (Adv/fa)






