DPRD Kukar Dorong Edukasi Pemilahan Sampah Sejak Usia Dini
Garda.co.id, Tenggarong– Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI, Sopan Sopian, menaruh perhatian besar terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan dan pemilahan sampah sejak usia dini.
Ia menilai, edukasi anak-anak mengenai budaya memilah sampah sebaiknya dimulai dari lingkup terkecil, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas lokal.
“Anak-anak ke depan perlu dibiasakan memilah sampah, mana yang organik, mana yang plastik. Jadi dari kecil sudah teredukasi, sudah tahu bahwa botol plastik bukan dibuang sembarangan,” ujarnya.
Sopan menjelaskan, Desa Kayubatu telah memiliki infrastruktur dasar pengelolaan sampah, termasuk alat pencacah plastik dan tempat pembakaran sampah.
Sarana ini diharapkan dapat menjadi media integrasi program edukasi lingkungan bagi pelajar dan warga setempat.
“Sampah-sampah plastik bisa dicacah menjadi bijih plastik, bisa didaur ulang. Anak-anak bisa belajar langsung dari lapangan, tidak hanya teori,” katanya.
Sopan Sopian juga menyoroti pola pikir masyarakat yang masih abai terhadap kebersihan lingkungan, terutama di area tongkrongan anak muda. Untuk mengubah kebiasaan ini, ia mengusulkan ide kreatif berupa insentif akses Wi-Fi gratis bagi yang membuang sampah pada tempatnya.
“Saya pernah lihat di Banjarmasin, botol plastik bisa ditukar dengan akses Wi-Fi. Nah, ini bagus diterapkan di Kukar, terutama di area publik atau taman-taman komunitas. Jadi, orang termotivasi membuang sampah di tempatnya karena bisa dapat internet gratis,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa gagasan ini bukan sekadar soal fasilitas, tetapi lebih pada mensugesti pola pikir masyarakat agar terbiasa mencari tempat sampah saat ingin membuang sesuatu.
Perubahan perilaku akan muncul ketika tindakan yang benar dilakukan secara berulang.
“Kita ingin menciptakan kebiasaan baru. Kalau tiap hari dia buang sampah di tempat yang benar, lama-lama dia pasti akan merasa aneh kalau tidak menemukan tempat sampah. Nah, ini perlahan bisa merubah budaya masyarakat,” tambahnya.
Meski demikian, Sopan mengakui tantangan dalam mengedukasi masyarakat yang lebih tua.
“Anak-anak cenderung lebih mudah diarahkan. Kalau orang tua, ada yang paham, tapi juga banyak yang abai. Makanya pendekatannya harus terus-menerus dan kreatif,” tutupnya. (Adv/fa)






