Dikepung Tambang dan Dilanda Banjir, Warga Batuah Mendapat Angin Segar dari Sidak DPRD Kukar
Garda.co.id, Kukar – Selasa, 14 Mei 2025, suasana RT 021 Dusun Surya Bhakti di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, berubah ramai dan penuh harap.
Tidak seperti biasanya yang identik dengan banjir, kali ini kedatangan rombongan Komisi III DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi pusat perhatian warga setempat.
Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III, Fairida, didampingi dua anggotanya, Johansyah dan Hairendra.
Mereka datang bersama beberapa pejabat dari instansi teknis terkait serta perwakilan perusahaan tambang yang beroperasi di sekitar pemukiman warga.
Kunjungan ini bertujuan menindaklanjuti keluhan masyarakat yang telah lama mengalami banjir berkepanjangan dan dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas tambang.
“Kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus melihat langsung kondisi di lapangan. Komisi III sudah beberapa kali menggelar Rapat Dengar Pendapat, namun solusi belum ditemukan. Hari ini, kami membawa pihak-pihak terkait ke lokasi untuk mencari solusi nyata,” beber Farida.
Sidak kali ini melibatkan berbagai pihak lintas sektor dari pemerintah pusat hingga daerah, termasuk Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV, Inspektur Tambang Kementerian ESDM Kaltim, BPBD Kukar, DLHK Kukar, Dinas Pertanahan Kukar, Camat, Kapolsek, Danramil Loa Janan, dan Kepala Desa Batuah, Abdul Rasid.
Keempat perusahaan tambang besar yang ikut serta adalah PT Karya Putra Borneo, PT Bara Multi Suksessarana Tbk, PT Komunitas Bangun Bersama, dan PT Welarco Subur Jaya.
Abdul Rasid, Kepala Desa Batuah, menjelaskan kondisi sulit yang dihadapi warganya.
“Warga kami sudah hidup dalam ketidakpastian lebih dari dua tahun. Sungai dangkal akibat sedimentasi, saat hujan deras rumah warga selalu terendam. Mediasi sudah dilakukan, tapi belum ada solusi,” ungkap Abdul Rasid.
Ia menambahkan bahwa sekitar 16 rumah warga secara rutin terdampak banjir, yang memperburuk kondisi ekonomi dan psikologis mereka.
“Jika perusahaan tambang punya itikad baik, kami harap mereka bersama-sama membantu membebaskan 16 rumah terdampak. Ini langkah cepat agar warga bisa hidup tenang,” harapnya.
Farida mengakui tantangan besar dengan lokasi yang dikelilingi oleh empat perusahaan tambang besar. Ia mendesak agar semua pihak duduk bersama mencari solusi yang menyeluruh dan bertanggung jawab.
“Jangan tunggu sampai warga harus mengungsi dulu baru bertindak. Kami ingin tanggung jawab nyata dari perusahaan dan Komisi III akan terus mengawal hingga masalah ini tuntas,” kata Farida.
Sidak ini menjadi angin segar bagi warga Batuah yang telah bertahun-tahun menghadapi dampak banjir dan lumpur. Komisi III berjanji menindaklanjuti hasil sidak dengan forum Rapat Dengar Pendapat dan langkah teknis lainnya demi melindungi hak serta keselamatan masyarakat Desa Batuah. (Adv/fa)






